Self Coaching dengan metode GROW

Kenapa sih self coaching sangat penting bagi kita? Pernah kan mendengarkan curhatan seorang teman yang datang ke kita minta pendapat atas persoalan yang dihadapi?

Hasil survey dari salah satu Lembaga Coaching, manusia sebagai makhluk sosial ternyata 96% mau melakukan coaching dan 99% persen puas akan sesi coaching yang sudah di ikuti.

Sekarang bayangkan kalau kita ada persoalan yang pelik untuk diurai pasti akan mencari pendapat orang ketiga atau orang lain dalam mencari solusi.

Masalahnya adalah kebanyakan seorang coach professional pasti di bayar atas hasil jerih payahnya membantu kita, kalaupun gratis misalnya kebetulan temen kita bisa menjadi coach yang professional kita juga harus menyesuaikan waktunya untuk diajak konsultasi kan, Bayangkan seandainya kita bisa melakukan sendiri coaching tentu akan lebih powerfull hasilnya karena yang tahu potensi diri kita adalah kita sendiri.

Beberapa hari yang lalu saya ditelepon seorang teman yang sudah lama tidak bersua. Dari pembicaraan tersebut ada tawaran yang cukup bagus bagi saya untuk mengisi kekosongan di departemen dia sebagai trainer dan meminta Curriculum Vitae atau Daftar Riwayat Hidup terbaru saya untuk di ajukan ke manajemen guna verifikasi tentang kompetensi saya, Tak selang berapa lama saya di telpon kembali oleh teman untuk konfirmasi ulang tawarannya dan mendapatkan informasi tambahan apakah saya mampu mengajarkan dalam bahasa inggris di depan Expatriat?

Jujur kalau ngomong sama orang asing atau orang Indonesia menyebut bule bukan hal yang baru bagi saya. Dulu sewaktu masih kerja di pulau Lombok, saya cukup sering berbincang dengan mereka namun berbeda saat berbicara di depan kelas.

Mengapa menurut saya sangat berbeda? karena kalau di depan kelas tata Bahasa, grammar, vocab harus benar dan istilah yang dipakai juga harus menyesuaikan untuk mempermudah menyampaikan pemahaman ke audience/peserta. Oleh sebab itu, dengan berat hati saya bilang ke temen mengundurkan diri dari tawaran sebagai trainer.

Pertanyaanya apakah saya menyesal dan kecewa dengan pilihan saya? Tentu tidak bagi saya, ini malah suatu anugrah besar dan jalan baru bagi saya untuk lebih mempraktekan ilmu baru yang akhir-akhir ini saya tekuni yaitu Neuro Lingustic Programming (NLP), selain selalu bersikap positif thinking untuk mendapatkan feedback yang positif juga, lalu apa yang harus saya lakukan? Aha…. Ini kesempatan bagus untuk bermain-main dengan pengalaman baru dan menerapkan pemahaman saya yaitu Self Coaching.

Tapi, sebelum lebiih jauh membahas apa yang akan dilakukan, alangkah baiknya kita terlebih dahulu belajar istilah-istilah yang akan digunakan di dalam tulisan ini dan pemahaman yang mungkin baru bagi rekan-rekan.

Arti Coaching dan sejarahnya

Yang pertama adalah apakah coaching itu sendiri? Sebenarnya ketrampilan coaching sudah muncul sejak lahirnya sejar manusia, kenapa bisa demikian?

Pernah kita perhatikan bagaiman anak kecil belajar berjalan, atau belajar memegang sendok garpu dengan di tuntun orang tua atau dari memperhatikan orang tuanya makan, atau ketika anak laki-laki kita belajar memegang peralatan kerja dengan memperhatikan ayahnya bekerja, atau bagaimana seorang guru matematika menerangkan cara perkalian atau penjumlahan dengan cara yang sederhana.

Ada seorang peneliti Erik de Haan mengatakan kata coaching adalah bentuk dari sebuah alat transport yang berupa kayu/besi yang ditarik oleh se-ekor kuda di abad sekitar 15. Sedangkan kalau kita melihat dari kamus inggris kata Coach memiliki arti kereta yang ditarik kuda yang memiliki fungsi mengantarkan orang dari satu titik ke titik lain.

Kalau melihat sisi filosofinya kenapa orang lebih suka naik kereta kuda (coach) karena ada berbagai alasan salah satunya adalah lebih cepat dari pada berjalan dan lebih nyaman mencapai tujuan yang diinginkan dengan mengendarai kereta yang ditarik kuda (coach) begitu pula tujuan coach dalam sisi profesionalisme, bagaimana seorang coach bisa membantu seorang coacheenya mencapai tujuan dengan nyaman.

Dari sisi pandang saya, alat transport tersebut merupakan sebuah simbol yang menjelaskan seorang coach membawa orang ke tempat yang mereka ingin dengan nyaman dan aman, tempat yang dimaksud disini bisa jadi tujuan hidup, solusi dari masalah yang di hadapi, cita-cita atau sasaran yang ingin dicapai.

Sedangkan cikal bakal sejarah coach secara profesional sendiri pertama kali dipergunakan dan bagaimana sejarahnya, saya menemukan sebuah artikel yang menarik dari salah seorang coach yang cukup saya segani www.darmawanaji.com, disana saya menemukan arti definisi coach saat ini yaitu “melatih, mengajar, menginstruksikan, memberi saran tim atau seseoarang untuk mencapai tujuan tertentu, maka tak heran kata coaching masih banyak yang belum paham dan rancu dengan training, mentoring bahkan yang lebih menyedihkan coaching dianggap sebuah teguran dari kesalahan.  Mungkin akan dibahas di materi lainnya secara gambling kenapa bisa berbeda.

Sejarah Coach Profesional

Di Amerika serikat pada tahun 1974 Ada seorang pelatih tennis yang membedakan antara coaching dengan metode lainnya seperti training, teaching, atau mentoring. Orang tersebut adalah Timothy Gallway, mulanya beliau penasaran dengan salah satu pemain atlit professional bisa bermain baik di lapangan di satu waktu, namun bisa juga kebalikannya bermain jelek di lain waktu.

Dari perbagai pengamatan yang beliau lakukan akhirnya menemukan sebuah kesimpulan bahwa permainan di lapangan adalah cerminan dari permainan dalam diri mereka sendiri (inner game; pikiran, perasaan, dan moodnya). Jika mereka bisa mengelola permainan dalam dirinya sendiri tersebut maka tak mustahil atlit tersebut akan bermain dengan puncak performance di lapangan, sebaliknya jika tidak bisa mengelolanya maka performanya akan jauh dari potensi sebenarnya (buku karangan Timothy Gallway yang terkenal The inner Game of Work, The inner game of Golf, The inner game of music).

Coaching is unlocking person’s potential to maximize their own performance, it’s helping them to learn rather than teaching them” atau dalam kamus anak singkong diartikan coaching membebaskan potensi seseorang untuk memaksimalkan performanya, membantu mereka untuk belajar alih-alih mengajari mereka.

Setiap orang memiliki kapasitas yang luar biasa dan kreatifitas untuk berkembang lebih baik dan semua ada dalam dirinya. Kadang butuh bantuan kekuatan rangsangan dari luar untuk memunculkannya, disinilah peran seorang coach dibutuhkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang powerfull sehingga membuat si coachee tergerak lebih maju lagi dan lebih berkembang dengan kemampuan diri sendiri.

Ada sebuah survey dari ICF (Internasional Coaching Federation), menyebutkan peran seorang coaching sangat besar dan hasil yang lain:

  • 99% Puas dengan pengalaman selama coaching
  • 96% Bersedia melakukan coaching lagi
  • 70% Mengaku coaching membantu peningkatan kinerja

Pertanyaanyanya adalah apakah harus dari kekuatan rangsangan dari pihak eksternal (dengan bantuan coach profesinal) untuk memicu munculnya kapasitas dan kreatifitas dalam diri kita? [ab4] Tentu tidak bukan dan tentu sangat bisa yaitu dengan self coaching selama paham dan ada keinginan kuat untuk memulai, mempunyai tujuan yang hendak dicapai karena disini kekuatan sejatinya kesuksesan dari self coaching.

SELF COACHING

When we do coaching we do not only help to solve the problem, but that will change our lives

Self coaching boleh diartikan sebagai kegiatan mandiri yang memungkin seseorang untuk bergerak menuju tujuan yang ia inginkan dan solusi atas tantangan yang ia hadapi. Kenapa sih self coaching sangat penting untuk dicoba? Karena yang tahu akan diri kita adalah kita sendiri, dan kita juga sudah tahu bahwa setiap orang punya kapasitas yang luar biasa dan kreatif dalam dirinya, Sadarkah kita bahwa sejak terlahir manusia memiliki kurang lebih 100 milyar sel otak sebagai bahan dasar yang di butuhkan untuk hidup dari potensi terbaiknya.

Nah bagaimana caranya kita melakukan self coaching yang power full? Banyak cara dan metode yang dipakai untuk membantu dalam self coaching, salah satunya saya lebih cenderung mengunakan metode GROW.

Namun sebelum kearah sana ada beberapa istilah yang akan saya pergunakan yang mungkin agak asing ditelinga kita atau malah sering kita lakukan yaitu self talk atau berbicara dengan diri kita sendiri dengan menggunakan metode asosiasi dan disosiasi akan sangat membantu kita dalam menerpakan self coaching dengan metode GROW diatas.

Asosiasi dan Disosiasi

Pernah ada salah satu teman dekat kita atau orang di sekitar minta pendapat ke kita terhadap masalah yang dihadapi dan kita akan mudah pula memberi jawabannya, atau pernahkah kita merasa ada sedikit kesal ketika melihat sebuah pertandingan di televisi dan mengomentari permainannya. Namun, semua akan berbalik terbalik ketika berada di posisi yang berlawanan misal saat kita menghadapi masalah yang sama kenapa kita susah mendapatkan solusi, atau ketika kita bermain di lapangan malah susah mengendalikan permaianan? Itulah ilustrasi sederhana asosiasi dan disosiasi dalam NLP.

ASOSIASI adalah Ketika kita mengalami dan melihat dari mata kepala kita sendiri sedangkan

DISOSIASI adalah Ketika kita melihat diri kita sedang mengalami sesuatu.

Kenapa kedua hal ini sangat penting dalam self coaching? Menurut saya salah satu tool diatas akan cepat membantu kita dalam mengurai setiap masalah dan mencari solusi yang tepat terhadap masalah kita sendiri. Cara termudah untuk mempergunakan atau memposisikan kedua hal diatas adalah Ketika kita melakukan self talk atau berbicara pada diri sendiri, kita bisa berperan di dua sisi tersebut, satu sisi memerankan Asosiasi dan satu sisi lainnya memerankan Disosiasi supaya berimbang dalam melakukan pengamatan atau memecah suatu masalah.

Apa itu GROW dalam Coaching

Banyak cara dan metode atau model dalam melakukan coaching salah satunyanya adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan, bukan sembarang pertanyaan tapi pertanyaan terbuka yang sistimatis salah satunya dengan metode yang dikenal dengan GROW yaitu singkatan dari

Goal

Reality

Opportunity

Will/way forward

Dalam kasus ini saya akan mencoba self coaching atas kejadian yang saya hadapi diatas tentang kesempatan yang hilang sebagai trainer di salah satu perusahaaan tambang.

Untuk mempercepat dan membantu saya dalam self coaching ini saya akan selalu memposisikan sebagai diri saya sendiri (asosiasi) dan memposisikan sebagai orang lain yang melihat saya menghadapi masalah (disosiasi) ini saya posisikan Ketika sedang mengajukan sebuah pertanyaan.

Masalah yang saya hadapi adalah Belum mampu berbicara Bahasa inggris secara lancar di depan umum (kelas).

Pertanyaanya adalah:

Untuk mencari tujuan (GOAL) saya sebenarnya

  1. Apa yang ingin saya capai setelah tawaran tersebut saya tolak?
  2. Apa yang akan saya dapatkan, rasakan, lihat Ketika saya mencapainya
  3. Mengapa hal ini (bisa berbicara didepan kelas dengan Bahasa inggris) menjadi sangat penting?
  4. Jika saya mendapatkan atau bisa mencapainya, siapa saja yang akan merasakan, melihat, dan mendengarkan hasilnya.
  5. Bagaimana saya tahu atau apa tolak ukut dari keberhasilan saya?

Dalam menentukan goal ini pergunakan satu alat tambahan lagi untuk memudahkan dan membuat jelas dari tujuan yang hendak dicapai. Tool tersebut dinamakan SMART seperti gambar dibawah ini

Dalam mengajukan tujuan dari coaching ini harus dicari sampai jelas tujuan sebenarnya, sehingga akan memudahkan dalam merumuskan pertanyaan berikutnya.

Pada saat saya mengajukan sebuah pertanyaan saya memposisikan sebagai orang lain yang sedang berbicara dengan saya (disosiasi), saya harus membayangkan, merasakan, melihat dengan jelas gambaran tentang saya berada di hadapan saya, dan pada saat menjawab pertanyaan yang diajukan saya Kembali ke posisi sebagai diri saya sendiri (asosiasi).

Dan tujuan saya sudah cukup jelas yaitu bisa berbahasa inggris ketika berdiri depan kelas atau berbicara dengan peserta dan mereka paham akan apa yang ingin saya sampaikan.

Pertanyaan untuk menggali Realita atau kondisi saat ini (Reality)

Apa kendala atau masalah utama yang saya hadapi?

Kendala saya adalah kurang lancar dalam berbahasa inggris terutama Ketika menyampaikan suatu materi didepan kelas

Untuk saat ini bagaimana pemahaman saya dalam berbahasa inggris?

Untuk kosa kata cukup paham, namun ketika pengucapan apa yang saya sampaikan intonasinya berbeda terutama pada ejaan masih dipengaruhi dialek indonesia

Dari angka 1 sampai 10 berapa nilai yang didapat untuk menggambarkan posisi saat ini dalam berbahasa inggris

Untuk skala masih diangka 5 dan mau saya tingkatkan ke angka 9 yang menurut saya sudah cukup untuk bekal berbicara di depan umum

Apa saja yang sudah dilakukan sampai saat ini untuk mencapai tujuan diatas?

Sampai saat ini belajar mendengarkan film-film dari barat tanpa teks dan mencoba memahaminya

Kira-kira untuk menuju nilai hasil yang di harapkan di atas (pertanyaan no 2 di Realty) apa yang harus dilakukan?

Untuk menambah skill berbicara saya harus mencari tempat Lembaga training, mencari partner berbicara, dan meningkatkan dalam mendengarkan film-film dari barat.

Berapa kira-kira nilai tambahan

Saya perlu tambahan nilai 4 tingkatan dari saat ini

Dari berbagai alternatif diatas mana kira-kira yang mungkin untuk dilakukan dalam waktu dekat?

Mencari partner bicara Bahasa inggris di lingkungan sekarang

Jika di gambarkan urutannya seperti apakah Langkah-langkah saya untuk mencapai tujuan diatas?

Langkah-langkah menurut saya yang optimal adalah :

Mencari partner berbicara

Menonton film barat tanpa teks

Mengikuti les atau training Ketika cuti

Mana yang paling berdampak secara langsung di tujuan dari berbagai alternatif pilihan diatas?

Menurut saya sering berlatih berbicara langsung dengan rekan atau partner akan cepat mempelancar dan menambah kosa kata saya

Apa kendala-kendala yang ada jika saya melakukan atau menjalankan alternatif diatas?

Kendala terbesar saya adalah membagi antara praktik berbicara dengan rekan kerja sama waktu kerja di kantor

Bagaimana cara saya untuk mengatasi kendala-kendala diatas?

Konsisten memulai pembicaraan, membuat rencana waktu yang tepat berbicara memakai Bahasa inggris.

Bagaimana cara saya untuk mengukur pencapaian sudah terpenuhi atau belum?

Ketika berbicara dengan orang lain menggunakan bahas inggris tanpa ada koreksi dan paham dengan yang saya bicarakan tanpa apa pengulangan atau penjelsan lebih lanjut.

 Adakah alternaif lain selain yang sudah ada diatas?

Alternatif lain adalah dengan berbicara langsung dengan orang yang Bahasa sehari hari memakai ingrris (native speaker), mencari partner di medsos dari luar negeri dan berani untuk menyapa dengan bahasa inggris

 Apa yang akan saya lakukan jika ada kendala-kendala lain yang mengganggu dalam pencapaian?

Mencari alternatif lainnya seperti mencari teman dari luar negeri melalui medsos atau jejaring yang lain.

Beberapa pertanyaan untuk pelakasaan (Will/way forward)

Dari pilihan urutan yang dipilih diatas kapan waktu yang tepat untuk dilakukan dalam waktu dekat?

Setibanya saya di site atau tempat kerja setelah cuti

Kapan mau dilakukan? Tanggal, bulan dan tahun?

Tanggal 15 juni 2021

Bagaimana cara saya untuk memonitor semua pilihan diatas saya lakukan?

Menulis perkembangan di buku catatan, dan meminta penilaian dari partner berbicara Bahasa inggris

Berapa waktu yang dibutuhkan untuk melakukan setiap pilihan di atas?

2 bulan dari saya memulai dan mendapatkan temen berbicara Bahasa inggris

Dari hasil Self Coaching dengan bantuan metode GROW di atas sangat membantu saya dalam mengurai mana yang akan saya lakukan dalam waktu dekat, butuh berapa waktu untuk mencapai tujuan saya, bagaimana saya mendapatkan tujuan saya termasuk pilihan-pilihan yang akan saya lakukan.

Dan sampai saat saya menulis ini sudah mulai mendapatkan partner atau rekan kerja yang kebetulan sudah cukup mahir dalam berbahasa inggris 2 orang dan entah kenapa tiba-tiba pikiran saya juga terbuka mencari solusi lain dari alternatif di atas yaitu mendapatkan partner dari jaringan medsos saya dari scotlandia, mungkin ini juga afirmasi di pikiran saya yang cukup kuat akhirnya bisa mewujudkan apa yang saya inginkan.

Semoga tulisan ini bisa membuka wawasan bahwa SELF COACHING sangat membantu kita dalam menemukan solusi terbaik.

Molore, 08 Juli 2021

Budhi Setiyawan

3 thoughts on “Self Coaching dengan metode GROW”

  1. Agus Santoso berkata:

    Joss

  2. Agus Santoso berkata:

    Joss pak

  3. Andi Balladho berkata:

    Hi Pak Budhi, apa kabar nih?

    Ditunggu tulisan-tulisan keren selanjutnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post