BUDAYA K3 DALAM FILOSOFI JAWA

GOOD PAGI SEMANGAT MORNING GUYS…

Bagaimana kabar yang luar biasa hari ini? Eiittt ngak semuanya berjalan mulus kan? Seperti mulusnya jalan tol yang bebas hambatan ha h aha ha…

Pernah kah mendengar keluhan-keluhan dari rekan kerja kita tentang minimnya budaya kerja yang konon banyak yang mengabaikan, ada yang menyalahkan manajemennya, kurangnya kesadaran karyawan, atau bisa jadi keduanya, yah kalau di lihat dari sudut yang berkeluh kesah memang wajar sih itu terjadi Cuma apakah benar semua itu? ataukah ada alasan lainnya? Karena pada dasarnya sejak manusia lahir sudah menjadi kodratnya keselamatan itu adalah yang utama, tahu teori ergonomi yang baik dan benar? Coba amati anak kecil yang baru bisa berjalan dan mencoba mengangkat benda, amati dengan benar caranya mengangkat benda, Itulah ergonomi yang baik dan benar atau ketika mereka belajar menuruni sebuah tangga pasti dengan cara yang amat berhati hati dan masih banyak contoh arti keselamatan dari anak kecil namun kenapa ketika beranjak dewasa, ketika bisa berfikir dan bertindak semua menjadi berperilaku tidak aman? Hm… apa ya kira-kira yang menjadi penyebabnya?

Dari rasa penasaran tersebut saya mencoba mencari tahu dan menemukan salah satu jawaban yang menurut saya masuk akal yaitu teori hirarki kebutuhan dari Abraham Maslow .

Maslow pertama kali memperkenalkan konsep hierarki kebutuhan dalam makalahnya tahun 1943 “A Theory of Human Motivation” dan bukunya yang berjudul Motivation and Personality.

Secara mendasar, Maslow menjelaskan bahwa motivasi kita dipengaruhi oleh kebutuhan tertentu, Hierarki Maslow paling sering ditampilkan sebagai piramida. Tingkat terendah piramida terdiri dari kebutuhan paling dasar, sedangkan kebutuhan paling kompleks ada di bagian paling atas piramida.

Kebutuhan dasar di piramida adalah kebutuhan fisik, termasuk kebutuhan akan makanan, air, dan tidur. Setelah kebutuhan tingkat rendah ini dipenuhi, orang dapat beralih ke tingkat kebutuhan berikutnya, yaitu kebutuhan untuk keselamatan dan keamanan, jadi kesimpulan yang saya dapat dari teori ini kadang orang menerjang keselamatan dirinya sendiri untuk memenuhi kebutuhan paling dasarnya terlebih dahulu. Coba kita perhatikan yang melanggar aturan K3 kebanyakan adalah orang-orang (yang maaf bukan merendahkan) yang taraf ekonominya masih dibilang rendah, dalam pikiran mereka kalau saya tidak bekerja atau melakukan pekerjaan tersebut darimana saya bisa mendapatkan penghasilan buat makan?

Saya jadi teringat dengan tulisan saya beberapa waktu lampau yang ternyata orang indonesia sudah memiliki budaya kerja selamat lho, coba kalau kita telaah dan belajar tentang budaya Indonesia akan banyak kita temukan pelajaran tentang arti pentingnya SAFETY FIRST jauh sebelum kata kata ini muncul kali. Salah satunya adalah budaya orang jawa (maaf karena saya orang jawa) banyak ajaran ajaran dari nenek moyang kita tentang Safety First salah satunya :

  1. Tak sangoni slamet (saya doakan /berikan restu selamat)

Satu kata yang menurut saya sangat sederhana namun mengena, kadang ketika kita akan bepergian baik kerja, merantau, atau melakukan suatu kegiatan sering kita (adat ketimuran) meminta ijin pada orang tua. Satu petuah yang sering terucap adalah “TAK SANGONI SLAMET” Artinya bahwa bukan harta atau limpahan uang yang diharapkan orang tua kita tapi Keselamatan diri kita ketika kembali kerumah. Bukankah dalam ilmu Safety ditekankan Keselamatan adalah segalanya?

  1. Alon alon asal klakon (pelan pelan asal selamat)

Peribahasa yang menurut sebagaian orang identik dengan “lambat” ; “kurang gesit”; “tidak produktif” namun kalau kita cermati banyak benarnya juga apapun yang akan kita kerjakan kalau dilakukan dengan kehati hatian, tidak tergesa gesa, dengan penuh perhitungan pasti akan tercapai juga apa yang diharapkan plus tidak ada ada hambatan dalam pengerjaan. Jangan selalu ditekankan Produksi first dan keselamatan diabaikan bukan hasil yang didapat tapi kegagalan yang muncul.

  1. Sluman slumen slamet

Dalam analogi pikiran kita setiap pekerjaan pastilah ada suatu Resiko yang ditanggung, namun semua resiko itu bisa kita kurangi atau tidak akan terjadi jika kita mengerjakannya dengan penuh perhatian dan teliti. Terlepas dari semua itu kadang juga resiko tersebut datangnya tidak terduka dan tiba tiba kalau sudah seperti itu SLUMAN SLUMUN SLAMET yang terpenting adalah keselamatan diri kita.

  1. Ojo dumeh (jangan Sombong)

Jangan sombong akan kemampuan diri kita. Walaupun kita sudah mahir tetap semua harus dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Urut urutan pekerjaan; langkah pekerjaan; harus secara detail kita lakukan. Kadang kala kita lupa kesembronoan (lalai) yang mungkin awalnya hanya sedikit atau kecil dan merasa kita sudah biasa melakukan ada beberapa langkah yang dilewati akhirnya apa yang tidak kita harapkan bisa aja terjadi

  1. Ing Ngarso Sung Tulodo

Menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya. Ing Madyo Mbangun Karso seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tutu wuri Handayani seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat.

Mungkin itu saja coretan saya tentang Filosofi Jawa dalam Budaya K3. Tidak ada kata terlambat untuk memulai kan KALAU TIDAK SEKARANG KAPAN LAGI KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI (hehehe kayak jargon Kampaye pemilu aja)

Batu, 13 Januari 2021

Budhi Setiyawan

2 thoughts on “BUDAYA K3 DALAM FILOSOFI JAWA”

  1. Orang Jawa dari dulu banyak do’a Keselamatannya….
    Tulisannya Super Keren.
    saran dikit : agak dipadatin biar berisi tapi tetap padat… pasti tambah super duper keren Mas.

    1. entar kalau dipadati jadi lontong hahahaha…. iya mungkin jadi pertimbangan untuk tulisan selanjutnya, karena kalau terlalu padat juga jadi kelihatan panjang dan bisa jadi bikin cepat bosan ketika membacanya. terima kasih atas saran dan masukan yang sangat berharga buat tulisan yang lebih berarti. dan terima kasih juga sudah mau berkunjung di sudut-pandang.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post